Selasa, 15 Mei 2012

Gumoh dan Muntah pada Neonatus


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. Maka dari itu diperlukan pemantauan pada bayi baru lahir. Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
Dengan pemantauan neonatal dan bayi, kita dapat segera mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada bayi sedini mungkin. Contoh masalah pada bayi yang sering kita temui yaitu muntah dan gumoh. Jika salah satu dari masalah tersebut tidak segera diatasi maka bisa menyebabkan masalah atau komplikasi lainnya. Namun, tak semua masalah tersebut harus mendapat penanganan khusus karena bisa membuat dampak negative pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ada masalah yang seharusnya dibiarkan saja karena masalah tersebut bisa menghilang dengan sendirinya.
Oleh karena dalam makalah ini akan membahas muntah dan gumoh, serta penanganan yang sesuai agar tidak menimbulkan dampak lainnya. Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang masalah pada bayi.


B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari muntah dan gumoh pada bayi.
2.      Untuk mengetahui penyebab dari muntah dan gumoh pada bayi.
3.      Untuk mengetahui perbedaan muntah dan gumoh pada bayi.
4.      Untuk mengetahui tanda dan gejala dari muntah dan gumoh pada bayi.
5.      Untuk mengetahui cara menangani, muntah dan gumoh pada bayi.









BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    GUMOH (Regurgitasi)
1.      Pengertian
Regurgitasi adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan, beberapa saat setelah minum susu (Depkes R.I, 1999).
Gumoh adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan ketika beberapa saat setelah minum susu botol/ menyusui dan dalam jumlah sedikit. (Depkes R.I, 1994).
Regurgitasi merupakan keadaan normal yang sering terjadi pada bayi dengan usia dibawah 6 bulan. Seiring dengan bertambahnya usia, yaitu sampai usia diatas 6 bulan, maka regurgitas semakin jarang dialami oleh anak.
2.      Etiologi
a.       Posisi saat menyusui yang tidak tepat
b.      Anak sudah kenyang tetapi tetap diberi minum karena orang tuanya khawatir anaknya kekurangan makan
c.       Posisi botol
d.      Terburu-buru/tergesa-gesa
e.       Dan lain-lain
Bayi Gumoh (Jawa) biasanya hanya untuk membersihkan sisa susu dari mulutnya. Gumoh menjadi abnormal bila jumlahnya banyak dan pertambahan berat badan tidak mencukupi.
3.      Patofisiologi
Biasanya bayi mengalami gumoh setelah diberi makan. Selain karena pemakaian gurita dan posisi saat menyusui, juga karena ia ditidurkan telentang setelah diberi makan. Cairan yang masuk di tubuh bayi akan mencari posisi yang paling rendah. Bila ada makanan yang masuk ke Esofagus atau saluran sebelum ke lambung, maka ada refleks yang bisa menyebabkan bayi gumoh. Lambung yang penuh juga bisa membuat bayi gumoh. Ini terjadi karena makanan yang terdahulu belum sampai ke usus, sudah diisi makanan lagi. Akibatnya bayi tidak hanya mengalami gumoh tapi juga bisa muntah. Lambung bayi punya kapasitasnya sendiri. Misalnya bayi umur sebulan, ada yang sehari bisa minum 100 cc, tapi ada juga yang 120 cc.
4.      Tanda dan Gejala
a.       Mengeluarkan kembali susu saat diberikan minum.
b.      Gumoh yang normal terjadi kurang dari empat kali sehari.
c.       Tidak sampai mengganggu pertumbuhan berat badan bayi.
d.      Bayi tidak menolak minum.
5.      Pencegahan
a.       Perbaiki teknik menyusui. Cara menyusui yang benar adalah mulut bayi menempel pada sebagian areola dan dagu payudara ibu.
b.      Berikan ASI saja sampai 6 bulan (ASI eksklusif). Pemberian makanan tambahan dibawah 6 bulan memperbesar resiko alergi, diare, obesitas serta mulut dan lidah bayi masih dirancang untuk menghisap, bukan menelan makanan.
c.       Beri bayi ASI sedikit-sedikit tetapi sering (minimal 2 jam sekali), jangan langsung banyak.
d.      Jangan memakaikan gurita tertalu ketat.
e.       Posisikan bayi tegak beberapa lama (15-30 menit) setelah menyusu
f.       Tinggikan posisi kepala dan dada bayi saat tidur.
g.      Jangan mengajak bayi banyak bergerak sesaat setelah menyusu.
h.      Jika gumoh di sebabkan oleh kelainan atau cacat bawaan segera bawa ke petugas medis agar mendapat penanganan yang tepat sedini mungkin.
i.        Apabila menggunakan botol, perbaiki cara minumnya. Posisi botol susu diatur sedemikian rupa sehingga susu menutupi seluruh permukaan botol dan dot harus masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi.
j.        Sendawakan bayi sesaat setelah minum. Bayi yang selesai minum jangan langsung ditidurkan, tetapi perlu disendawakan dahulu terlebih dahulu. Sendawa dapat dilakukan dengan cara:
1)       Bayi digendong agak tinggi (posisi berdiri) dengan kepala bersandar dipundak ibu. Kemudian, punggung bayi ditepuk perlahan-lahan sampai terdengar suara bersendawa.
2)      Menelungkupkan bayi di pangkuan ibu, lalu usap/tepuk punggung bayi sampai terdengar suara bersendawa.
6.      Penatalaksanaan
a.       Bersikaplah tenang.
b.      Segera miringkan badan bayi agar cairan tidak masuk ke paru-paru (jangan mengangkat bayi yang sedang gumoh, karena beresiko cairan masuk ke paru-paru).
c.       Bersihkan segera sisa gumoh dengan tissue atau lap basah hingga bersih, pastikan lipatan leher bersih agar tidak menjadi sarang kuman dan jamur.
d.      Jika gumoh keluar lewat hidung, cukup bersihkan dengan cotton bud, jangan menyedot dengan mulut karena akan menyakiti bayi dan rentan menularkan virus.
e.       Tunggu beberapa saat jika ingin memberi ASI lagi.
7.      Asuhan Bidan
a.       Memberitahukan bahwa gumoh adalah hal yang harus mendapat perawatan yang baik.
b.      Menginformasikan pada ibu bahwa gumoh disebabkan posisi saat menyusui yang tidak tepat atau posisi botol yang salah
c.       Memberitahu ibu untuk memperbaiki cara minumnya, posisi saat memberikan susu dari botol dan sendawakan bayi sesaat setelah minum ASI.
B.     MUNTAH
1.      Pengertian
Muntah adalah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi secara paksa melalui mulut, disertai dengan kontraksi lambung dan abdomen (Markum : 1991).
Muntah merupakan keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama makanan masuk ke dalam lambung (Depkes R.I, 1994).
Pada masa bayi, terutama masa neonatal, muntah jarang terjadi. Oleh karena itu, bila terjadi muntah maka harus segera dilakukan observasi terhadap kemungkinan adanya gangguan.
Muntah harus dibedakan dengan regurgitasi. Pada regurgitasi, pengeluaran susu terjadi setelah minum susu. Hal ini dapat disebabkan karena kebanyakan minum atau kegagalan untuk mengeluarkan udara yang tertelan. Muntah merupakan aksi refleks yang dikoordinasi medulla oblongata, sehingga isi lambung dikeluarkan dengan paksa melalui mulut.
2.      Etiologi
a.       Kelainan kongenital saluran pencernaan, iritasi lambung, atresia esofagus, atresia/stenosis, hirschsprung, tekanan intrakranial yang tinggi, cara memberi makan atau minum yang salah, dan lain-lain.
b.      Pada masa neonatus semakin banyak misalnya factor infeksi (infeksi traktus urinarius, hepatitis, peritonitis, dll)
c.       Gangguan psikologis, seperti keadaan tertekan atau cemas terutama pada anak yang lebih besar.
3.      Patofisiologi
Muntah merupakan respon refleks simpatis terhadap berbagai rangsangan yang melibatkan berbagai aktifitas otot perut dan pernafasan.
Proses muntah dibagi 3 fase berbeda, yaitu :
a.       Nausea (mual) merupakan sensasi psikis yang dapat ditimbulkan akibat rangsangan pada organ dan labirin dan emosi dan tidak selalu diikuti oleh retching atau muntah.
b.      Retching (muntah) merupakan fase dimana terjadi gerak nafas spasmodic dengan glottis tertutup, bersamaan dengan adanya inspirasi dari otot dada dan diafragma sehingga menimbulkan tekanan intratoraks yang negatif.
c.       Emesis (ekspulsi) terjadi bila fase retching mencapai puncaknya dan ditandai dengan kontraksi kuat otot perut, diikuti dengan bertambah turunannya diafragma disertai dengan penekanan mekanisme antirefluks. Pada fase ini, pylorus dan antrum berkontraksi, fundus dan esofagus berelaksasi dan mulut terbuka.
4.      Tanda dan Gejala
Ada beberapa gangguan yang dapat diidentifikasi akibat muntah, yaitu :
a.       Muntah terjadi beberapa jam setelah keluarnya lendir yang kadang disertai dengan sedikit darah. Kemungkinan ini terjadi karena iritasi akibat sejumlah bahan yang tertelan selama proses kelahiran. Muntah kadang menetap setelah pemberian makanan pertama kali.
b.      Muntah yang terjadi pada hari-hari pertama kelahiran, dalam jumlah banyak, tidak secara proyektif, tidak berwarna hijau, dan cenderung menetap biasanya terjadi sebagai akibat dari obstruksi usus halus.
c.       Muntah yang terjadi secara proyektil dan tidak berwarna kehijauan merupakan tanda adanya stenosis pylorus.
d.      Peningkatan tekanan intrakranial dan alergi susu.
e.       Muntah yang terjadi pada anak yang tampak sehat. Karena tehnik pemberian makanan yang salah atau pada faktor psikososial.
5.      Pencegahan
a.       Perlambat pemberian susu. Bila diberi susu formula, beri sedikit saja dengan frekuensi agak sering.
b.      Sendawakan bayi selama dan setelah pemberian susu. Bila bayi diberi ASI, sendawakan setiap kali akan berpindah ke payudara lainnya.
c.       Susui bayi dalam posisi tegak lurus, dan bayi tetap tegak lurus selama 20-30 menit setelah disusui.
d.      Jangan didekap atau diayun-ayun sedikitnya setengah jam setelah menyusu.
e.       Jika diberi susu botol, pastikan lubang dot tidak terlalu kecil atau terlalu besar.
6.      Penatalaksanaan
a.       Cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke saluran napas yang dapat menyumbat dan berakibat fatal.
b.      Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tidak perlu khawatir. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru-paru dan menyumbat jalan napas. Jika ada muntah masuk ke paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa, kecuali membawanya segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.
7.      Asuhan Bidan
Muntah yang tidak disertai dengan gangguan fisiologis tidak memerlukan penanganan khusus. Meskipun demikian diperlukan tindakan sebagai berikut :
a.       Ciptakan suasana tenang dan menyenangkan pada saat makan. Hindari anak makan sambil berbaring atau tergesa-gesa, agar saluran cerna mempunyai kesempatan yang cukuip untuk mencerna makanan yang masuk.
b.      Ajarkan pola makan yang benar dan hindari makanan yang merangsang serta menimbulkan alergi. Pemberian makanan juga harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak, dengan memperhatikan menu gizi seimbang, yaitu makan yang bervariasi dan mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Protein dari susu sapi, telor, kacang-kacangan dan ikan laut kadang-kadang menyebabkan alergi. Untuk itu orang tua harus hati-hati dan bila perlu diganti dengan bahan makanan lain.
c.       Ciptakan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Orang tua yang mengabaikan kehadiran anak menciptakan situasi yang menegangkan. Situasi tersebut merupakan situasi yang tidak menyenangkan anak dan dapat berdampak pada fisik anak. Oleh karena itu, kasih sayang yang mencukupi dan bimbingan yang bijaksana dari orang tua merupakan hal yang sangat diperlukan.
d.      Lakukan kolaborasi. Apabila muntah disertai dengan gangguan fisiologis, seperti warna muntah yang kehijauan, muntah secara proyektil, atau gangguan lainnya, segeralah bawa anak ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Selain itu, pemeriksaan penunjang juga sangat diperlukan.


BAB III
TINJAUAN KASUSA
A.    Data Subjektif
1.      Identitas
Nama                      : Putri
Umur                      : 2 tahun
Suku bangsa           : Sunda
Agama                    : Islam
Alamat                    : Kp. Tanjung Ds. Karang Anyat Kec. Kawali
2.      Keluhan Utama
Muntah, lesu, letih, kurang nafsu makan, dan susah minum.
3.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya anak sudah masuk rumah sakit dengan keluhan muntah, bayi tampak tidak aktif, tak mau mimum, dan kurang nafsu makan.  
4.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi pengkajian riwayat :
a.       Prenatal
Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dengan usia gestasi 40 minggu, selama kehamian mendapat imunisasi TT sebanyak 3 kali.
b.      Natal
Lamanya proses persalinan + 14 jam, dibantu oleh bidan, ibu mendapatkan suntik oksitosin 10 u, tidak ada penyulit dalam persalinan.

c.       Post Natal
Ibu mengatakan berat badan anaknya saat lahir 3,5 kg, panjang Badan 51 cm, kondisi kesehatan baik, apgar score 8, dan tidak ada kelainan kongenital.
d.      Imunisasi
Ibu mengatakan bayinya sudah mendapat imunisasi hepatitis B, dan polio pada saat lahir, reaksi yang terjadi adalah demam.
e.       Tumbuh Kembang
Ibu mengatakan berat badan bayinya waktu lahir 3,5 kg. Berat badan pada usia sekarang adalah 17 kg, tinggi badan bertambah 2 cm setiap bulan, ibu mengatakan bayinya sudah mulai bisa tengkurap dan mengangkat kepala lebih lama.
f.       Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi, pemberian tuberkulin test dan reaksinya.
g.      Tumbuh Kembang
Berat waktu lahir 3,5 kg. Berat badan bertambah 170 gr/minggu, TB bertambah 2 cm/bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.
5.      Pola kebiasaan Sehari-Hari
a.       Makan minum
Ibu mengatakan anaknya makan + 3 kali sehari dengan menu bervariasi seperi sayur-sayuran, tempe, tahu dan daging. Minum    + 8 gelas sehari dan minum susu + 2 kali sehari.
b.      Pola eliminasi
Ibu mengatakan anaknya BAB + 7 kali sehari dengan konsistensi encer dan BAK  5-6 kali dengan warna jernih kekuningan, ada penyulit dalam BAB sering terasa mules-mules.
c.       Pola istirahat
Ibu mengatakan anaknya tidur malam + 12 jam dan tidur siang + 3 jam.
d.      Personal hygiene
Ibu mengatakan anaknya biasa mandi dan gosok gigi 2 kali sehari, keramas 2 hari sekali.
e.       Pola aktifitas
Aktifitas yang biasa dilakukan adalah bermain dengan temen sebaya.
B.     Data Objektif
1.      Keadaan umum              : Lemas
2.      Antropometri                  :
Tinggi badan                    : 100 cm
BB sekarang                     : 17 kg
3.      Tanda – tanda vital        :
a.       Tekanan darah           : 100/60 mmHg
b.      Nadi                          : 65 kali/menit
c.       Respirasi                    : 30 kali/menit
d.      Suhu                          : 36,80C
4.      Pemeriksaan fisik
Kepala                  : Bersih, rambut tidak rontok
Mata                     : Konjungtiva tidak anemis, sclera putih
Mulut                   : Bersih, bibir kering dan lidah pucat
Leher                    : Tidak ada pembesaran getah bening, tidak ada pembesaran tiroid, tidak ada pelebaran vena jugularis
Dada                                : Bentuk simetris, bunyi jantung murni regular, suara paru-paru bersih tidak ada wheezing
Abdomen                         : Auskultasi: Bunyi usus terdengar, peristaltik usus meningkat
Kulit                     : Kulit kering
C.    Analisa
Anak usia 2 tahun, dengan keluhan muntah.
D.    Penatalaksanaan
1.      Memberitahukan ibu tentang keadaan bayinya.
2.      Memberitahukan ibu tentang asuhan yang akan diberikan
3.      Diberi minum/makan, sedikit saja namun sering.
4.      Perbanyak minum agar menghindari dehidrasi
5.      Menjaga/mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit.
6.      Diberi obat muntah (sesuai petunjuk dokter), misal:
a.       Domperidon (0,2 - 0,4 mg/kg berat badan tiap 4-8 jam).
b.      Metoklopramid.
c.       Cisapride.
7.      Bila terdapat esofagitis, berikanlah antagonis H2, misalnya: ranitidin (2-3 mg/kg berat badan/kali, 2 x sehari).
8.      Rujuk ke RS dengan fasilitas bedah jika terdapat indikasi seperti: Bayi sakit berat (layu/letargi) dengan BB kecil yaitu  < 2500 gr dan  < 37 minggu
9.      Jelaskan pada ibu bahwa muntah pada bayi adalah keadaan yang normal; terjadi setelah minum dan makan. Dengan semakin bertambahnya usia, muntah ini otomatis akan berkurang.
10.  Jealskan pada ibu muntah perlu dibedakan dengan regurgitasi. Pada regurgitasi, pengeluaran isi lambung terjadi secara spontan.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Muntah adalah keluarnya sebagain besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah makanan masuk lambung agak lama, disertai kontraksi isi lambung dan abdomen. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin mengalami muntah lendir bahkan kadang disertai dengan darah.
Gumoh dan muntah sering kali terjadi hampir setiap pada bayi. Gumoh berbeda dengan muntah. Keduanya merupakan hal biasa (normal) dan tidak menandakan suatu hal yang serius yang terjadi pada bayi Anda. Hanya sebagian kecil kasus muntah bayi (muntah patologis) yang menjadi indikasi gangguan serius.
Baik gumoh dan muntah pada bayi merupakan pengeluaran isi lambung. Bedanya gumoh terjadi seperti ilustrasi air yang mengalir ke bawah, bisa sedikit (seperti meludah) atau cukup banyak. Bersifat pasif dan spontan. Sedangkan muntah lebih cenderung dalam jumlah banyak dan dengan kekuatan dan atau tanpa kontraksi lambung. Sekitar 70 % bayi berumur di bawah 4 bulan mengalami gumoh minimal 1 kali setiap
harinya, dan kejadian tersebut menurun sesuai dengan bertambahnya usia hingga 8-10
% pada umur 9-12 bulan dan 5 % pada umur 18 bulan. Meskipun normal, gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan bayi.


B.     Saranl
1.      Hindari memberikan ASI/susu saat bayi berbaring. Jaga agar bayi tetap dalam posisi tegak    sekitar 30 menit setelah menyusu.
2.      Hindari meletakkan bayi di kursi bayi karena akan meningkatkan tekanan pada perut.
3.      Hindari merangsang aktivitas yang berlebihan setelah bayi menyusu.
4.      Kontrol jumlah ASI/susu yang diberikan.misal Berikan ASI /susu dengan jumlah sedikit tapi sering.
5.      Sendawakan bayi segera setelah menyusu. Bahkan bayi terkadang masih membutuhkan bersendawa di antara 2 waktu menysusu.
6.      Check lubang dot yang Anda gunakan untuk memberikan ASI/susu. Jika lubang terlalu kecil akan meningkatkan udara yang masuk. Jika terlalu besar ,susu akan mengalir dengan cepat yang bisa memungkinkan bayi Anda gumoh.
7.      Hindari memberikan ASI/susu ketika bayi sanagt lapar, karena bayi akan tergesa-gesa saat minum sehingga akan menimbulkan udara masuk.
8.      Jika menyusui, posisi bayi dimiringkan. Kepalanya lebih tinggi dari kaki sehingga membentuk sudut 45 derajat. Jadi cairan yang masuk bisa turun ke bawah.
9.      Jangan mengangkat bayi saat gumoh atau muntah. Segera mengangkat bayi saat gumoh adalah berbahaya, karena muntah atau gumoh bisa turun lagi, masuk ke paru dan akhirnya malah mengganggu paru. Bisa radang paru. Sebaiknya, miringkan atau tengkurapkan anak. Biarkan saja ia muntah sampai tuntas jangan ditahan.
10.  Biarkan saja jika bayi mengeluarkan gumoh dari hidungnya. Hal ini justru lebih baik daripada cairan kembali dihirup dan masuk ke dalam paru-paru karena bisa menyebabkan radang atau infeksi. Muntah pada bayi bukan cuma keluar dari mulut, tapi juga bisa dari hidung. Hal ini terjadi karena mulut, hidung, dan tenggorokan punya saluran yang berhubungan. Pada saat muntah, ada sebagian yang keluar dari mulut dan sebagian lagi dari hidung. Mungkin karena muntahnya banyak dan tak semuanya bisa keluar dari mulut, maka cairan itu mencari jalan keluar lewat hidung.
11.  Hindari bayi tersedak. Bila si bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran pernapasan alias paru-paru. Ini disebut aspirasi dan berbahaya. Lebih bahaya lagi jika si bayi tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Untuk mencegah kemungkinan tersedak, agar setiap kali bayi muntah selalu dimiringkan badannya. Akan lebih baik jika sebelum si bayi muntah (saat menunjukkan tanda-tanda akan muntah) segera dimiringkan atau ditengkurapkan atau didirikan sambil ditepuk-tepuk punggungnya.
12.  Observasi sangat penting untuk mengetahui bahwa muntah atau gumoh berlebihan pada bayi yang mengarah pada hal patologis. Tak perlu dikhawatirkan jika berat badan bertambah (dalam rentang normal), bayi tampak senang dan tumbuh kembangnya normal. Sebaliknya, perlu khawatir jika terjadi penurunan berat badan atau tidak ada kenaikan berat badan, infeksi dada berulang, muntah disertai darah, bayi dehidrasi dan gangguan pernafasan misal henti nafas, biru atau nafas pendek, karena sistem pencernaannya belum sempurna, muntah adalah hal yang lumrah dialami bayi. Namun, ibu juga perlu waspada adanya faktor penyakit pemicu muntah.

DAFTAR PUSTAKA
http://bidanpurnama.wordpress.com/2011/01/08/muntah-pada-bayi-dan-anak/
http://smartpatient.wordpress.com/2010/02/12/muntah/
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/19/bayi-anda-gumoh-atau-muntah/
http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Masalah-masalah-Kesehatan-Si-Kecil
http://rinimustikasari.blogspot.com/2009/11/muntah-pada-bayi-dan-anak.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar